Kartu Sehat yang dilaunching oleh Jokowi di Solo dan dipopulerkan di DKI rupa-rupanya dianggap sebagai salah satu kunci keberhasilan. Sampai-sampai ketika Jokowi kini nyapres, Kartu Sehat pun mau dijadikan alat pendongkrak suaranya.
Kartu Sehat itu selain oleh Jokowi, juga ditiru oleh Musthofa, Bupati Kudus, dengan sebutan KKS (Kartu Kudus Sehat). Mungkin daerah lain juga ada yang menjiplak penerapan Kartu Sehat ini.
Ketika adik saya kena serangan stroke beberapa waktu lalu, saya sempat mau gunakan KKS itu untuk meringankan biaya. 3 jam setelah kena serangan, adik saya langsung saya bawa ke UGD RSUD Kudus. Di situ telah berjubel orang sakit menunggu ditangani. Adik saya tidak bisa ditangani dengan segera, meskipun penyakit adik saya dalam kategori urgent. Lalu adik saya saya luncurkan ke RSI Sunan Kudus. Alhamdulillah adik saya bisa ditangani segera dan bisa tertolong.
Dalam urusan pembiayaan, saya sodorkan KKS. Ternyata KKS itu tidak berlaku di RSI Sunan Kudus. Kata petugas admin di situ, yang bisa berlaku yaitu Kartu Jamkesmas dan Kartu BPJS. Pada hal, petugas Pemdes sebagai kepanjangan tangan dari Pemkab, ketika mendistribusikan KKS sempat mengatakan bahwa KKS dan Jamkesmas itu mempunyai fungsi yang sama. Bedanya Jamkesmas dibiayai dari APBN dan KKS dibiayai dari APBD. Saya jadi teringat banyak RSU di Jakarta yang juga menolak KJS (Kartu Jakarta Sehat) yang diluncurkan Jokowi.
Mengingat KKS tidak berguna, lalu semua KKS yang saya dan keluarga punya saya kembalikan ke Pemdes, agar mereka tahu bahwa KKS itu tidak bermanfaat. Kalau toh bermanfaat, manfaat itu tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Untuk memproteksi masalah kesehatan keluarga saya, akhirnya saya ikutkan pada program BPJS secara mandiri, meskipun saya yakin saya dan keluarga akan jarang gunakan Kartu BPJS itu.
Dalam kesempatan ini perlu saya sampaikan bahwa Kartu Sehat (meskipun masyarakat perlu sehat), bukanlah tema yang tepat digunakan sebagai tema kampanye. Jika Jokowi tetap menggunakan itu, saya justru menilai bahwa Jokowi itu ternyata adalah sosok calon pemimpin yang telah mencapai titik jenuh dalam berfikir, pemikirannya menjadi stagnan, berfikirnya dari itu ke itu lagi, sehingga ia tidak lagi mampu mengembangkan ide, gagasan dan pemikiran kreatif dan inovatif. Ia akan perlakukan masyarakat Indonesia semua seperti masyarakat Solo. Pada hal masyarakat Indonesia dan problematika yang dihadapi masing-masing daerah itu sangatlah berbeda dan beragam. Memperlakukan Jakarta seperti ia memperlakukan Solo saja belum berhasil, bagaimana mau memperlakukan itu ke seluruh Indonesia?
Jokowi memang terkenal sebagai sosok yang sederhana, tapi pemikirannya tidak boleh terlalu sederhana. Pemikiran yang tidak sekedar sederhana itu belum pernah ia perlihatkan. Kalau pemikirannya terlalu sederhana seperti itu, bagaimana ia mau membawa Indonesia manjadi negari yang maju?
Saya tidak sedang mengkampanyekan Prabowo. Saya juga tidak bermaksud melakukan kampanye hitam terhadap Jokowi. Saya cuma mau menyampaikan sebuah kenyataan dari kegagalan penerapan konsep pemikiran Jokowi di lapangan dan mengingatkan agar kita bersiap-siap untuk kecewa, jika Jokowi terpilih, seperti kita juga pernah kecewa ketika kita terlanjur memilih SBY.

No comments:
Post a Comment