Wednesday, December 24, 2014

Ma'af, Dimana Logika Tuan Presiden?



Bagaimana Logikanya, Bapak Presiden…?
Jika program anda adalah membentuk kabinet yang harus ramping, tapi kau bentuk kabinet dengan jumlah = kabinet SBY. Apa maksud kata 'ramping' itu?
Jika dulu kau katakan menentang mobil murah, justru kini kau bilang program mobil murah perlu dilanjutkan?
Waktu kau jamin jaksa agung bukan politisi parpol, lalu justru kau angkat jaksa dari Nasdem. Apakah Nasdem bukan parpol?
Dimana logikanya, Pak Joko..?
Waktu kau bilang perlu persulit investor asing untuk majukan investor lokal, tapi kau obral janji2 pada investor dunia dalam acara internasional?
Pernyataan kok selalu bertolak belakang..?
Waktu kau bicara tentang BLT dan BLSM karena cuma ngajari rakyat bodoh dan ga mau kerja. Tapi kini kau bagi2 program KKS (Kartu Keluarga
Sejahtera), yang sebetulnya serupa!
Ber-kali2 kau bilang koalisi tanpa syarat. Tak ada bagi2 kursi dalam kabinet, nyatanya kabinetmu sarat tokoh2 parpol?
Kenapa kok perbuatan dan ucapan tak sejalan?
Lalu kau jual penderitaan rakyat Palestina hanya untuk kampanye?
Dimana logikanya, pak?
Istrimu kenakan jilbab saat debat capres, kini melepasnya lagi. Jilbab pun kau jadikan bahan kampanye. Kenapa agama kau jual untuk politik,
pak?
Dimana logikanya, mister presiden..?
Harga minyak dunia turun drastis kau justru menaikannya…?
Menteri kelautanmu merokok di istana. Padahal pemerintah gencar larang merokok di tempat2 umum, dan Gedung2 pemerintah? Kenapa ia tak
jadi contoh?
Menteri sosialmu bilang waktu di NTT: "Bapak2 jangan rebutan ASI sama Balita". Ucapan saru, tak etis dan kampungan! Patut dan elok kah menteri ucap begitu?
Menko Ekonomi, Sofjan Djalil bilang pelemahan rupiah karena warisan kebijakan pemerintahan SBY. Enak betul tinggal menyalahkan pihak lain?
Menteri keuangan bilang bensin premium masih disubsidi Rp 1500. Berarti tanpa subsidi harganya Rp10.000,- kami bukan Kerbau!
Mendagri bilang: Server e-KTP ada di Amerika, padahal sebetulnya ada di Gedung Kantornya sendiri. Mau bikin sensasi?
Mendikbud Anies Baswedan yang hentikan kurikulum 2013, ternyata dia adalah orang yang terlibat membidani kurikulum itu! Bagaimana ini…?
Menteri PAN dan RB (Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) bilang tak boleh rapat di hotel tapi KemenPAN justru rapat di
ballroom mewah?
Hebat pak. Anda hebat. Baru beberapa bulan anda sudah luar biasa!
Rakyat ditipu oleh pencitraanmu lewat corong tivi yang ratingnya makin turun itu. Media2 kau beli!
Kami rakyat memang bodoh!!!!

Friday, June 20, 2014

apakah Wiranto atau Prabowo?

Beberapa waktu lalu, Jenderal TNI Wiranto mengungkapkan bahwa ada indikasi keterlibatan ABRI dalam kasus penculikan para aktivis prodemokrasi. "Patut diduga dalam kasus orang hilang tersebut terlibat beberapa oknum personel ABRI yang diperkirakan telah bertindak di luar prosedur," kata Jenderal Wiranto seperti dikutip media massa pada 30 Juni lalu.
Tetapi, menurut Koordinator Badan Pekerja Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), Munir SH, keterlibatan aparat itu sudah sangat transparan. Bahkan Kontras telah sampai kepada institusi-institusi di ABRI yang terlibat. Munir mengatakan bahwa pernyataan Jenderal Wiranto itu tidak signifikan bagi penyelesaian kasus orang hilang. "Seharusnya lebih maju dari itu, misalnya pernyataan yang langsung punya implikasi kepada masyarakat," kata Munir kepada Mustafa Ismail dari TEMPO Interaktif di YLBHI, Kamis, 9 Juli lalu.

Bagaimana Anda menanggapi pernyataan Pangab Jenderal Wiranto bahwa ada indikasi anggota ABRI terlibat?
Kalau minggu lalu waktu Pangab ngomong begitu, itu kemajuan. Tapi kalau minggu ini, sudah bukan kemajuan lagi. Upaya pencarian orang hilang dan siapa yang bertanggung jawab, itu bagi kita yang punya makna penting.
Menurut saya, peran signifikan pernyataan Pangab itu bukan persoalan ia mengakui ada keterlibatan aparat atau tidak. Karena mau diakui atau tidak, memang ada aparat yang terlibat. Itu sudah terbuka dan telanjang bulat. Bukan rahasia lagi.
Seharusnya?
Seharusnya lebih maju dari itu, misalnya yang langsung punya implikasi kepada masyarakat. Misalnya, dinyatakan bahwa yang diculik itu sekarang ada di tangan ini, dalam keadaan begini, kami akan pulangkan. Tapi kalau hanya mengaku karena kepepet, itu tidak signifikan sekarang. Dan itu tidak menjawab persoalan yang dipertanyakan oleh banyak pihak.
Kontras yakin bahwa ABRI tahu tempat penyekapan mereka?
Tahu, dong. Kalau mereka tahu siapa pelaku, mestinya mereka sudah tahu di mana mereka, diperlakukan seperti apa dan bagaimana nasibnya. Pasti tahu. ABRI terlalu menganggap masyarakat bodoh dan awam kalau bilang seolah-olah mereka tidak tahu. Berapa sihinstitusi militer yang ada di sekitar Jakarta ini, kan bisa dihitung dengan jari. Kalau mereka mau serius cari, pasti bisa. Masa, misalnya, Pangdam Jaya diperiksa mau menipu Pangab, masa dia nggak mengaku. Yang diperiksa ini bukan para maling ayam yang mencuri hanya karena lapar. Tapi ini kejahatan politik. Agak beda persoalannya.
Kalau mau dianggap cukup penting karena mengungkap ada keterlibatan aparatnya, pernyataan itu tak punya makna tanpa ada langkah konkrit berikutnya. Jadi, pengakuan Pangab sebenarnya tidak surprise. Seharusnya ada kelanjutan proses penelusuran ini, misalnya, penyelamatan orang, penyelamatan alat bukti, pengumuman secara terbuka siapa pelakunya. Kalau mau pakai inisial nama, boleh. Itu hak mereka. Memang ada asas praduga tak bersalah. Tapi masyarakat ini menanti, mesin politik apa yang memainkan peran dalam penculikan-penculikan ini.
Kira-kira apa yang membuat Pangab membuat pengakuan seperti itu?
Kalau menurut saya, dia tidak ada pilihan lain. ABRI tidak terlalu banyak punya pilihan untuk menawar-nawar kembali persoalan penculikan ini. Pertama, karena persoalan sudah terbuka, kasusnya sudah terbuka sekali dengan pengakuan Andi Arief, Pius, Desmond, Jati, Reza. Itu menurut saya sudah cukup membuat orang sudah tahu bahwa penculikan itu dilakukan tentara. Tidak ada pilihan lain, ABRI harus mengakui.
Kedua, masyarakat internasional juga cukup memberi tekanan terhadap pemerintah Indonesia. Dalam persoalan-persoalan krisis sekarang ini Indonesia butuh membangun kepercayaan. Jadi, kasus hak asasi ini menempeleng kepercayaan yang akan tumbuh. Sehinga otomatis sebagai bagian dari paket penyelamatan itu, maka persoalan-persoalan ini harus diberesi.
Artinya tekanan luar negeri cukup berarti?
Oh, ya. Menurut saya tekanan internasional itu signifikan sekali untuk mempercepat proses pemerintah mengakui penculikan itu dan untuk bergerak mengusut tuntas. Meskipun kita juga tidak bisa mengabaikan bahwa tingkat perhatian masyarakat Indonesia sendiri cukup tinggi. Bahkan masyarakat yang dulunya tidak perhatian persoalan-persoalan hak asasi, sekarang perhatiannya sangat tinggi.
Perkiraan Anda, sikap ABRI selanjutnya bagaimana?
Saya tidak tahu apakah ABRI ini akan serius.Karena kalau dilihat dua pernyataan berikutnya setelah Pangab ngomong, itu ada pernyataan Puspen ABRI yang menyatakan bahwa 40 tersangka kemudian dianulir. Kemudian ada omongan Danpuspom bahwa belum ada tersangka, hanya orang diperiksa. Bagi saya ABRI telah membuat infomasi yang salah, atau dis-informasi kepada masyarakat melalui keterangan resmi. Yang terjadi adalah justru orang kemudian mempertanyakan. Saya jadi ragu lagi, ABRI ini serius atau tidak memecahkan persoalan ini. Tidak ada pernyataan yang sangat tegas dan jujur terhadap persoalan ini.
Apakah ada semacam perpecahan di dalam tubuh ABRI sendiri?
Saya tidak tahu, apakah ada perpecahan atau tidak di dalamnya. Tapi, kasus ini agaknya dibebani oleh berbagai persoalan interen di ABRI. Mau dipecahkan, misalnya, menunggu konsolidasi selesai. Menurut saya seharusnya tidak begitu. Nggak ada hubungannya konsolidasi ABRI dengan pengusutan suatu kasus, dengan skandal politik semacam kasus penghilangan orang begini.
Artinya mengulur-ulur waktu?
Saya kira mengulur-ulur waktu. Dan itu menjadikan kelambanan-kelambanan dalam upaya memecahkan kasus ini dan upaya pencarian yang sebenarnya. Orangnya bisa dihilangkan, alat-alat bukti juga bisa dihilangkan oleh pelaku. Nah, mereka selalu menyembunyikan kelambanan-kelambanan dengan dalih menjaga asas praduga tak bersalah. Padahal sejauh ini pemerintah cenderung untuk tidak pernah menghormati azas praduga tak bersalah untuk kepentingan politik pemerintah. Aktivis belum ditangkap dan masih aman-aman saja, pemerintah sudah mengumumkan bahwa dia terlibat kasus begini. Diduga saja nggak, sudah diumumkan. Lalu mereka ditangkap dulu, baru nanti skenario kasus disusun. Orang nggak menuntut hal semacam itu, tetapi coba lebih jujurlah. Masyarakat sedang menunggu. Kalau masyarakat tidak percaya kepada tentara, ya habis, kan?
Apakah ABRI akan terus bisa mengulur-ulur waktu padahal desakan untuk segera diselesaikan kasus ini semakin kuat?
Kalau menurut saya ABRI tidak bisa mundur. Kecuali ia mau mengabaikan salah satu upaya penyelesaian krisis yaitu membangun kepercayaan. Caranya dengan menuntaskan soal hak asasi manusia. IMF juga mundur dalam mengucurkan dana karena IMF tidak yakin pemerintah ini punya dedikasi cukup baik dan cukup jujur dalam problem-problem hak asasi. Itu contoh nyata. Kelakuan untuk tidak mau mengungkap persoalan orang hilang menjadikan kepercayan itu tidak cepat pulih. ABRI tidak mungkin mengabaikan tekanan internasional terhadap persoalan-persoalan ini.
Kontras sudah punya kesimpulan institusi mana yang paling terlibat dalam kasus penculikan ini?
Sudah. Kita sudah memberikan kepada Tim Pencari Fakta ABRI. Terserah mereka mau menindaklanjuti seperti apa. Tapi kita tahu siapa pelakunya. Itu sudah terbuka. Jangankan saya, masyarakat umum juga sudah tahu. (Bekas Pangdam Jaya) Sjafrie misalnya mengaku, oh si itu dulu pernah dipegang. Dia bilang,"Saya periksa di Kodam, terus saya serahkan ke Polda." Ketika kasus ini belum ramai, ia pernah ngomong begitu. Jadi, tidak perlu berpolemik lagi, jika Sjafrie yang "pegang" maka pasti Kodam Jaya terlibat. Sederhana saja. Kalau Kontras nggak sulit-sulit membuktikan ini. Maka saya nggak mengerti kesulitan apa yang dihadapi oleh tim pencari fakta. Kalau berdasarkan fakta, faktual, itu tidak terlalu sulit untuk mengungkapkan kasus ini, malah terlalu gampang. Panggil saja (bekas) Kapolri, tanyakan padanya dari siapa mereka terima Andi Arief.
Institusi mana yang paling kuat keterlibatannya di situ?
Tingkat keterlibatannya macam-macam. Ada delapan institusi militer, mulai dari Koramil, Kodim, Kodam, Mabes Polri, Polda Metro Jaya, plus...., plusnya itu saya nggak mau ngomong. Yang wajib ngomong itu tentara. Mau nggak mereka ngomong? Kalau memang dia tidak jujur mengungkap, saya akan ngomong. Tapi kita tahu siapa. Dan juga kepada tim pencari fakta, ketika ketemu mereka kita juga sudah ngomong. Kita bukan institusi penyidikan. Yang wajib ngomong itu institusi penyidikan. Tapi kita akan kontrol kalau institusi penyidikannya nggak benar.
Yang terlibat sampai perwira tinggi?
Oh ya, dong. Nggak mungkin kopral sampai tingkat kolonel saja. Berbintang-bintanglah yang terlibat ini. Tim penculiknya itu bisa melewati beberapa wilayah dan penguasa wilayah itu nggak berkutik. Kodam di wilayah itu saja tidak berkutik. Kalau hanya rombongan kopral sampai kolonel, melawan Korem saja mereka sudah pulang.
Seandainya kasus ini tetap dibiarkan mengambang, apa yang akan dilakukan Kontras?
Kontras tidak punya pilihan terlalu banyak. Kalau kita sudah membuka ini semua, ya, kita akan melakukan langkah-langkah yang lebih maju. Peradilan internasional bukan tidak bisa dilakukan. Sebenarnya Kontras sejak awal belum berpikir bahwa pengadilan internasional adalah media yang pas. Kita berharap ada kesadaran dalam negerilah untuk ini. Tetapi kalau nggak ada, ya apa boleh buat. Kontras adalah sebagai sebuah institusi hak asasi yang memperjuangkan problem-problem hak asasi. Kontras punya induk organisasi dan mekanisme melapor ke komisi HAM PBB. Kami mendukung informasi kepada komisi itu.
Kemudian, Agustus 1998 sampai Desember 1998 itu ada enam kali sidang Komisi HAM PBB. Termasuk working group untuk pengawasan kekerasan dan penghilangan orang. Nah, di situ Indonesia akan menjadi agenda penting. Kalau sampai proses itu Indonesia belum punya jawaban yang jelas, di sidang komisi nanti Indonesia jelas kena.
Bahan yang diperoleh dari proses itu menjadi bagian dari persidangan Komisi HAM PBB pada April 1999. Jadi, ada enam sidang pendahuluan yang sangat menentukan bahan-bahan bagi sidang pada April nanti. Kalau Indonesia masuk di situ, ya berat.
Kontras telah melaporkan soal kasus orang hilang ini ke Komisi HAM?
Sejak Kontras berdiri (awal tahun ini) kami terus menerus melaporkan kasus ini. Tepatnya mulai Maret 1998 kami berhubungan dengan working group.
Kepastian Kontras ikut dalam sidang di komisi HAM itu?
Minggu ketiga Juni 1998.
Apa agenda Kontras yang akan dibawa ke sana?
Saya membayangkan Kontras ini suatu institusi independen dalam pencarian fakta-fakta orang hilang. Tapi, kita akan hadir di persidangan di sana dengan apa adanya. Kalau misalnya Agustus 1998 itu tidak ada tindakan yang signifikan dari negara, ya kita sampaikan tidak ada yang signifikan. Kalau pemerintah sudah menangkapi beberapa tentara, beberapa jenderal, dan orang-orang hilang itu dipulangkan, itu akan kita sampaikan. Tergantung pemerintah. Kontras tidak akan mendramatisir keadaan ini.
Disebut-sebut penculikan ini bermotif pengamanan Sidang Umum MPR yang lalu, apakah ada kaitannya dengan naiknya kembali Soeharto ketika itu?
Yang penting, selalu saja ada aktor intelektual di balik penculikan-penculikan. Petrus (penembakan misterius) contohnya. Setelah beberapa tahun berlalu baru diakui Presiden Soeharto bahwa itu atas perintahnya. Jadi, tidak menutup kemungkinan Soeharto juga yang memerintahkan penculikan. Cuma dugaan itu harus dibuktikan secara jujur. Jangan kemudian muncul biografi yang di kemudian hari mengakui soal ini tapi tanpa pertanggungjawaban.

Bayangkan, berapa ratus orang mati dipetrus. Pelakunya sudah mengaku, tapi ratusan orang itu akhirnya mati tanpa pertanggungjawaban. Dalam kasus penculikan, bukan tidak mungkin akan berlalu tanpa pertanggungjawaban juga. Saya yakin pastilah ada aktor intelektual yang punya visi sangat jelas dari ABRI.

KEBENARAN KASUS PRABOWO?

Tamu kita adalah Andi Arief, anggota PRD, yang dikenal terutama dalam kalangan terbatas sebagai salah satu pejuang yang tegar dalam gerakan demokrasi rakyat. Bagi gerakan reformasi dan gerakan Hak Azasi, dan semua upaya pembaruan yang sekarang kita sedang lanjutkan, Andi Arief merupakan acuan sikap dan isu perjuangan. Banyak sekali gerakan berawal di jantung pemikiran gerakan yang diilhami Andi Arief dan kawan-kawan di SMID, di PRD, dan tempat yang melahirkan dinamika melawan kemapanan. Sekarang kita berada di jaman yang tidak setajam dulu, tapi dengan persoalan yang sama beratnya.
PRD sudah berkembang menjadi partai yang resmi, dan Andi Arief juga menjadi lebih matang dan dewasa. Dalam gaya, pejuang seperti Andi Arief ringan-ringan saja menghadapi masalah yang sebetulnya amat berat. Kalau perhatian masyarakat sekarang tersita oleh apa yang disebut "kasus Wiranto", sebetulnya yang jadi soal bukan Wiranto orangnya. Dia hanya salah satu orang saja yang memang harus dipanggil untuk diadili untuk pelanggaran-pelanggaran HAM.
Masih banyak yang harus dipanggil untuk pelanggaran lain selama perjalanan penindasan dan kekerasan dua regim sebelum yang sekarang ini. Kalau kita sekarang sudah mulai membawa pelanggaran HAM di Timtim ke proses Kejaksaan Agung, pertanyaan berikutnya adalah, apakah bisa secepat dan serapih itu menyelesaikan soal-soal pelanggaran HAM, soal kekerasan, yang terjadi di banyak tempat lain di Indonesia sebelumnya? Misalnya kita melihat mundur saja dalam kurun waktu, mulai dari kasus-kasus dalam rangka transisi ini, kita segera teringat belum adanya kejelasan sama sekali dalam kasus penculikan aktivis mahasiswa dimana Andi Arief itu sendiri menjadi korban.
Kemudian peristiwa Semanggi I dan Semanggi II, peristiwa Trisakti, peristiwa Lampung, Tanjung Priok, berbagai kejadian di Aceh, dan sebagainya. Sampai kemana kasus-kasus pelanggaran itu akan diurus mundur, bagaimana batasnya? Disinilah kita mendengar pendapat orang yang berada ditengah masalah ini.
Bagaimana upaya Andi Arief dan harapannya pada masyarakat? Dengan suatu rasa hormat yang mendalam kami undang Andi Arief untuk memberi tanggapan mengenai topik ini Mengembalikan keadilan Indonesia, bukan mengembalikan, tapi karena memang belum pernah ada keadilan, masalahnya sebetulnya "Mencari Keadilan di Indonesia".

Bagaimana Bung Andi?
Kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia ini mulai terbuka dalam situasi rejim transisi pada waktu itu, ketika Suharto lengser diganti Habibie. Karena rejimnya rejim transisi, maka masih sulit membuka secara tuntas pelaku-pelaku pelanggaran HAM. Karena yang namanya rejim transisi itu unsur-unsur kekuatan rejim lama masih ada. Sebenarnya ini cukup mengganggu dalam proses untuk mendapatkan pelaku-pelaku kejahatan politik. Tapi ketika pemerintahan transisi diganti oleh pemerintahan yang lebih legitimate, seperti pemerintahan Gus Dur, ini lebih memudahkan dalam proses mencari pelaku-pelaku kejahatan politik. Pemerintahan Gus Dur ini perlahan-lahan mulai menghabisi satu persatu sisa-sisa rejim lama. Saya kira Wiranto adalah salah satu faksi terbesar dalam rejim lama. Jadi inilah suatu faksi kroni dalam tubuh militer, yang apakah internasional punya intervensi atau tidak, saya kira Gus Dur sendiri berkepentingan untuk menyingkirkan Wiranto, sehingga benteng terakhir dari kekuatan rejim lama ini hilang, dan akan makin memudahkan bagi pengusutan kasus-kasus kejahatan politik bahkan kejahatan-kejahatan ekonomi nantinya.
Orang bilang Wiranto sebetulnya riwayatnya sudah tamat, jadi nggak perlu dibicarakan lagi, dan kita bisa bicara kasus-kasus lain, tapi sebelum kita tinggalkan soal Wiranto, menurut anda bagaimana, apakah Wiranto ini sudah tamat perannya dalam politik nasional?
Saya kira Wiranto akan bernasib sama seperti Prabowo. Dan yang paling penting seperti yang saya bilang tadi bahwa ini simbol terakhir dari kekuatan rejim lama. Ini satu tanda bahwa kekuatan-kekuatan rejim lama itu akan mulai habis dan memudahkan jalan. Kalau Wiranto sudah dinonaktifkan oleh Gus Dur maka pejabat-pejabat militer atau sipil lain yang terlibat dalam kejahatan politik akan lebih mudah diadili saya kira.
Saya nggak pernah persis tahu misalnya penculikan anda, atau kasus Trisakti. Masalahnya apakah faktanya itu tidak ada yang tahu atau memang tidak bisa diungkapkan karena rejim kekuasaan waktu itu. Anda sendiri apa tahu siapa yang menculik anda dan apa latar belakangnya?
Saya tidak tahu persis, cuma proses penyelidikan oleh POM ABRI, polisi, dan sebagainya sudah tahu persis siapa pelaku sebetulnya. Cuma ini kan persoalan politik tingkat tinggi karena melibatkan elite politik. Semua hal yang menyangkut elite politik itu sejak jaman Suharto bahkan sampai dengan Gus Dur ini tersendat-sendat proses penyelidikannya. Tapi dia itu menyita perhatian orang banyak, menyita perhatian internasional. Inilah yang kemudian kasus-kasus besar seperti Trisakti, Semanggi, dan sebagainya hanya menjadi perdebatan umum karena melibatkan elite politik, maka prosesnya terhambat. Menurut saya ujung-ujungnya juga ke Wiranto, karena hampir semua kasus-kasus besar ini panglimanya Wiranto, dari kasus penculikan, Trisakti, Semanggi dan sebagainya.
Dulu orang selalu menganggap Prabowo pelakunya, sekarang Wiranto, artinya apa? Mereka sama-sama atau sebetulnya Prabowonya nggak apa-apa atau bagaimana sebetulnya Wiranto
Menyingkirkan Prabowo itu hanya satu jalan dari militer untuk membersihkan diri. Jadi menggeser dari institusi ke personal. Sebenarnya kita tahu 32 tahun ini bukan kejahatan orang perorang, hampir semua pejabat militer melakukan hal yang sama. Jadi institusi.
Oo.. jadi anda katakan karena institusi salah maka semua orang yang punya peranan dalam institusi itu salah, dan karena Wiranto lebih punya peran dari Prabowo ya katakanlah Wiranto lebih salah. Berarti mundur juga ke Faisal Tanjung dan sebagainya. Kalau dibilang kita tahu pelakunya, kita termasuk termasuk anda, tahu pelakunya, itu adalah pelaku yang masuk kelas elite politik, atau pelaku yang tidak mempunyai konsekuensi politik?
Pelakunya adalah yang punya kepentingan dalam keberlangsungan satu rezim. Jadi biasanya kalau pelakunya militer tentu dia jadi alat politik utama dari rejim yang sedang berkuasa pada waktu itu. Saya kira kita tahu selama 32 tahun militer kita mengabdi pada kepentingan Suharto.
Kasus Wiranto bisa bergelinding karena kita dibantu oleh perhatian dan tekanan internasional karena kejahatan yang dituduhkan pada Wiranto itu adalah kejahatan melawan kemanusiaan, yang lain-lain itu dunia internasional rupanya tidak mau tahu. Apakah itu akan memperlambat menggelindingnya proses pengusutan, penyidikan dan peradilan di kasus-kasus yang domestik
Saya kira memang ada faktor kebetulan, kebetulannya adalah bahwa Barat punya kepentingan untuk melakukan intervensi terhadap Indonesia terutama dibidang ekonomi. Tapi yang perlu dicatat juga bahwa Gus Dur berkepentingan untuk menyingkirkan Wiranto. Karena ini juga satu-satunya kekuatan benteng akhir yang menyusahkan Gus Dur untuk melakukan proses stabilisasi politik didalam negeri. Jadi orang boleh berkata apapun, ada intervensi asing dan sebagainya. Tapi Gus Dur punya kepentingan dan saya dukung memang. Kita rakyat sipil harus mendukung untuk menyingkirkan Wiranto.
Apa Gus Dur akan punya kepentingan yang sama kuat untuk juga menggusur orang-orang selain Wiranto, untuk kasus 27 Juli, menggusur Faisal Tanjung, Syarwan Hamid, untuk menggusur sampai kepada misalnya soal Tanjung Priok, Aceh. Kira-kira kemauan politik Gus Dur akan sama kuat dan keinginan masyarakat untuk keadilan akan kuat tidak?
Ya, bukan persoalan lebih kuat tapi akan lebih mudah bagi pemerintahan Gus Dur untuk menyelidiki kasus-kasus sebelumnya. Karena yang masih aktifpun Gus Dur berani mengnon aktifkan, apalagi yang sudah tidak aktif. Kita tahu bahwa dalam suatu militer tidak aktif, sudah tidak punya pasukan-pasukan lagi. Artinya sekarang power sepenuhnya ada di Gus Dur.
Bagi kawan-kawan dan bagi PRD artinya apa? Bagaimana strategi perjuangan, atau bagi anda pribadi, usaha ke arah mengungkap kasus-kasus yang lalu, apa itu berarti akan ditempuh cara yang lain dari pada yang lalu?
Saya kira sekarang satu bukti bahwa lebih mudah memfokuskannya pada satu kasus penculikan. Misalnya pada waktu Maret 1998, itu Nurfaizi yang menjadi Dankoserse dulu bilang bahwa dia yang menyuliknya. Dan kemudian baru-baru ini ketika menjadi Kapolda dia mengatakan bahwa dia tidak menculiknya. Dia hanya disuruh mengakui oleh BIA. Jadi bahwa proses lepasnya Polri dari ABRI, sekarang dibawah Dephankam, untuk membantu di dalam proses membuka kasus-kasus ini. Jadi satu kemajuan kalau polisi bilang dia menerima saya dari BIA, sekarang tinggal diurut, BIA dari mana, itu akan ketemu dimana empat belas orang yang masih hilang.
Kalau soal waktu surut anda punya pendapat mengenai seberapa jauh mundur itu kita perlu mengungkap kasus-kasus ini, apa sampai kepada jaman Gestapu atau sampai kepada Tanjung Priok, atau dalam ukuran tahun?
Sepanjang periode rezim itu berkuasa, terutama rezim orde baru. Bisa kita mulai sejak tahun 65, jadi dibeberapa negara Amerika Latin itu pernah ada pelajaran. Ada pengakuan yang mendalam untuk bertanggung jawab terhadap proses-proses kejahatan politik, kekejaman militeristik yang pernah terjadi, lalu diadakan pengadilan yang terbuka dan fair, dan berjanji tidak mengulangi lagi. Itu saya kira proses yang ditempuh oleh Gus Dur, harus bisa meniru negara-negara Amerika Latin. Jadi ada pengakuan, minta maaf, tapi juga diadili, jangan sekedar diampuni tanpa ada proses pengadilan, seperti yang mau dilakukan Gus Dur ini.
Sepenting apa itu dari segi perjalanan demokrasi kedepan, lepas dari pada keadilan dan mendapatkan. Budiman pernah bilang, yang harus diurus pertama adalah korban-korban Orde Baru, demi keadilan. Kalau demi perkembangan demokrasi ke depan, apa sama pentingnya atau ada hal-hal yang barangkali sudah kalah prioritas terhadap pembinaan kehidupan demokrasi ke depan?
Yang paling penting sebenarnya buat sejarah, karena kita tahu sejarah selama 32 tahun selama orde baru itu betul-betul sejarah yang miring. Ini juga menyangkut proses rehabilitasi terutama nama, kemudian bermacam-macam stigma, black propaganda yang dibuat oleh rejim orde baru ini. Itu yang penting. Dan juga untuk pengalaman bagi anak cucu kita untuk melihat sejarah kita yang benar.
Bagaimana dengan cerita misterius dan tragis mengenai kawan-kawan anda, aktivis-aktivis, mahasiswa, pemuda yang nasibnya belum diketahui sampai sekarang, hilang atau bagaimana
Jadi yang jelas yang masih hilang itu berada dalam satu tempat dengan saya, dengan Faisol Reza dengan yang lain-lain. Kalau saya pribadi tetap berkeyakinan mereka masih hidup. Untuk mencari itu saya kira gampang sekarang, tinggal menyusuri pengakuan dari Nurfaizi bahwa dia terima dari BIA, kita tinggal cek ke BIA dan saya kira Gus Dur tidak boleh menutup mata mengenai hal ini. Karena bagaimanapun aktivis-aktivis yang hilang itu punya jasa juga untuk menghasilkan pemerintahan Gus Dur seperti sekarang ini. Hampir sebagian besar dari mereka adalah aktivis-aktivis underground movement ketika rezim Suharto berada diujung tanduk, tapi mereka masih punya unsur alat politik kekerasan yang paling hebat pada waktu itu.
Bicara mengenai Gus Dur dan pemerintahnya sekarang dan kenyataan yang anda ungkapkan yang sangat benar bahwa kalau tidak ada aktivis-aktivis, anda dan rekan-rekan, pemerintah ini juga tidak ada. Tapi sejak Gus Dur jadi presiden, apakah anda nilai dia memang dalam posisi untuk menjalankan komitmen moral itu atau koalisi-koalisi politik yang terbentuk itu sekarang sudah merubah kebebasan bergeraknya Gus Dur. Dengan perkataan lain apa Gus Dur sekarang bisa sama dengan Gus Dur yang dulu yang kita harapkan?
Gus Dur ini komitmen moral dan komitmen politiknya cukup tinggi untuk demokrasi. Cuma dia berada dalam posisi sulit untuk menentukan alat politiknya. Alat politik birokrasi dia tidak miliki karena birokrasi ini hampir bisa katakan 99 % dikuasai rezim lama, seluruh daerah. Kemudian militer, dia belum mendapatkan militer yang loyal kepada dia dan loyal pada reformasi, karena ini berhubungan dengan proses lamanya dia berkuasa. Ketiga, dia bisa menggunakan struktur partai, PKB, PDI Perjuangan. Partai-partai sekarang ini hanya berfungsi sebagai fungsi konsolidasi. Berbeda misalnya kalau Gus Dur ataupun Megawati itu masih mempertahankan struktur posko, karena itulah satu alat politik yang positif untuk meredam laju kekuatan rejim lama. Akhirnya Gus Dur ini cuma punya alat politik luar negeri dengan berjalan dari satu benua ke benua, dari satu negara ke negara. Kesalahan lain dari Gus Dur adalah salah memilih sekutu politik. Kita tahu bahwa Gus Dur ini jadi presiden dengan sekutu politik yang justeru banyak berhadapan dengan kepentingan-kepentingan gerakan-gerakan pro demokrasi. Misalnya Gus Dur dipilih juga oleh Golkar, dipilih juga oleh ABRI. Harusnya Gus Dur sejak awal melakukan aliansi-aliansi politik dengan unsur-unsur yang berdasar dalam proses perubahan politik. Ini akan memudahkan. Sekarang Gus Dur melakukan politicing di Sidang Umum MPR dan ini yang menghambat proses lahirnya reformasi. Makanya sekarang kelihatan Gus Dur mulai menyadari dan mulai membersihkan satu per satu. Tapi ini kotor menurut saya.
Kelemahan Gus Dur dalam dukungan politik sekarang itu berakibat sangat langsung dalam hal-hal tertentu, dalam hal ekonomi, dalam hal menjaga supremasinya terhadap militer dan yang jelas dalam mengusahakan kemenangan partai PKB, PDI, atau melanjutkan rejim ini katakanlah. Tapi dalam soal keadilan terhadap pelanggaran HAM, apakah ada kepentingan yang sangat berbeda, diantara rival politik Gus Dur, katakanlah dari poros tengah dengan Gus Dur sendiri?
Saya kira masih banyak bagian dari poros tengah yang punya ilusi bahwa untuk bisa mencapai reformasi yang lebih agamis misalnya, mereka masih harus menggantungkan kekuatan pada beberapa jendral, walaupun mereka pelanggar HAM sekalipun. Itu masih banyak didalam poros tengah. Kemudian Gus Dur juga untuk mencapai reformasi dia masih tidak begitu percaya bahwa tanpa militer akan berjalan reformasi. Kepentingan itu yang bersatu diantara Gus Dur dan poros tengah terhadap militer. Ini berbeda dengan student movement yang sama sekali tidak percaya pada kekuatan militer untuk demokrasi. Di intelektual masih banyak yang percaya bahwa hanya dengan militer bisa menjalankan reformasi, termasuk juga Arief Budiman. Arief Budiman ini ketika menjelang Suharto jatuh, di Australia berkali-kali bicara dari seminar ke seminar bahwa hanya dengan kekuatan tentara Suharto bisa jatuh. Tapi ternyata tidak, justeru mahasiswa melawan tentara agar Suharto jatuh.
Kalau kita lihat sekarang mekanisme sebagai contoh kita lihat misalnya proses KPP HAM, itu sekarang masih ke Kejaksaan, terus juga masih pertanyaan pengadilan model apa dan seterusnya. Apa menurut anda kasus-kasus lain itu perlu didahului dengan sarana hukumnya atau langsung saja sekarang itu masuk kedalam penyidikan-penyelidikan, dan dengan cara apa ? Apakah dengan cara seperti KPP HAM atau ada format lain yang menurut anda itu lebih baik?
Kita kalau meniru model KPP HAM, diumumkan, lalu dibawa ke Kejaksaan ini memerlukan waktu yang lama. Saya menduga kasus ini akan seperti pemerikasaan kasus KKN Suharto, nanti kita akan berada dalam posisi sulit, dalam bukti-bukti. Satu kelemahan dalam mengusut kasus Suharto misalnya bukti-bukti. Ini susah. Karena yang namanya kejahatan terorganisir akan susah untuk dilawan. Sama dengan KPP HAM. Tapi ada jalan yang mudah misalnya terutama untuk kasus-kasus lain, yang seperti saya bilang sejak awal tadi bahwa segera pensiunkan. Gus Dur berani mempensiunkan jendral-jendral itu, ini satu jalan untuk memudahkan polisi melakukan satu penyelidikan. Jadi kalau tidak segera dipensiunkan, saya kira ini susah. Jadi tidak sekedar non aktif. Non aktif ini saya nggak ngerti, mudah-mudahan ini cuma bahasa politik Gus Dur untuk mempensiunkan Wiranto.
Tekanan macam apa yang bisa dipakai untuk mempercepat proses peradilan ini atau paling tidak untuk supaya orang tidak lupa. Masyarakat umum walaupun kelihatannya bersimpati barangkali semangatnya sudah kurang. Bagaimana caranya untuk menjamin atau untuk mengusahakan supaya pemerintah Gus Dur ini tidak kehabisan bensin dalam mengusut perkara- perkara ini?
Kalau dulu kita ada simbol-simbol kediktatoran, semangat rakyat untuk melawan kediktatoran itu tinggi. Mood rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap segala macam kejahatan-kejahatan politik, walaupun tidak langsung tapi itu tinggi. Bahkan bisa dalam bentuk aksi-aksi politik, melempari kantor-kantor polisi, melempari kantor-kantor negara. Tapi ketika simbol-simbol kediktatoran sudah jatuh, sudah hancur, maka mood politik rakyat bergeser, hingga ini yang menyebabkan pressure-pressure massa susah sekarang. Karena itu proses ini akan beriringan nantinya dengan mood perlawanan massa di bidang ekonomi, misal yang akan kita prediksikan dalam BBM naik. Kalau BBM naik, ini mungkin akan mendapat perlawanan rakyat yang cukup besar karena seperti sejarah yang sudah kita lihat, beberapa rejim jatuh juga karena persoalan ekonomi yang melilit. Hanya persoalannya agak beda, kalau dijaman Suharto misalnya kita akan lebih mudah tanpa menjelaskan pada rakyat bahwa kediktatoran ini harus dilawan. Hanya rakyat pada waktu itu butuh cara untuk melawannya. Kalau sekarang ini bukan menunjukan cara kita melawan Gus Dur tapi bagaimana kita bisa kasih tahu kepada rakyat pemerintahan Gus Dur ini belum sunguh-sungguh untuk demokrasi, maupun reformasi. Istilah kita, kita membelejeti pemerintahan Gus Dur. Misalkan maksud kita datang ke Istana cuman mau kasih tahu pada rakyat bahwa Gus Dur ini ditekan oleh Barat, ditekan IMF, dia tidak bersungguh-sungguh untuk kesejahteraan rakyat, buktinya subsidi dicabut untuk listrik, bensin dan lain sebagainya itu.
Rupanya perlawanan massa menjadi lebih mudah kalau ada suatu obyek yang memang ingin dilawan habis-habisan, seperti Suharto. Dalam hal Gus Dur barangkali belum ada kepentingan untuk melawan Gus Dur sampai dia berhenti. Apakah ada tokoh-tokoh lain yang barangkali bisa dijadikan obyek perjuangan itu sementara ini untuk mempermudah perjuangan massa
Saya kira jelas posisi kita kepada pemerintahan sekarang ini kita beroposisi, belum sampai ke tendensi pengambil-alihan kekuasaan misalnya. Dan saya kira sekarang satu keuntungan Gus Dur adalah belum ada satu kekuatan politik sipil yang punya tendensi untuk pengambil-alihan kekuasaan. Sekarang Gus Dur ini selamat, cuma satu-satunya kekuatan yang bisa dan punya tendensi pengambilan kekuasaan adalah tentara. Tapi tentara sudah dipukul oleh Gus Dur, dan sekarang power di tangan Gus Dur. Sekarang tugas gerakan mahasiswa ataupun gerakan oposisi lain adalah perlahan-lahan membelejeti pemerintahan Gus Dur pada rakyat bahwa ini belum sungguh-sungguh menjalankan reformasi dan keadilan. Karena saya juga melihat ini satu pemerintahan yang vakum ideologi. Jadi ketika kedikatatoran jatuh, hampir semua kekuatan politik vakum ideologi, ideolinya demokrasi Gus Dur sekarang ini hanya mau memperbaiki pemerintahan yang bersih, pemerintahan yang menjalankan peradilan, itu saja. Tapi kebijakan-kebijakan belum berubah. Tapi ini kan proses, biasanya ideologi akan belakangan, kita nggak tahu.

Wednesday, June 18, 2014

28 ALASAN MEMILIH PRABOWO


1.Prabowo Tegas.
2.Prabowo Bukan Capres Boneka.
3.Prabowo Bkn Petugas Partai, Tapi Leader.
4.Prabowo Cerdas (IQnya 152, Mendekati Einstein/Habibie)5.Prabowo Setia, Tak Pernah Langgar Perjanjian Batutulis.
6.Prabowo Tdk Munafik.
7.Prabowo Berkarakter.
8.Prabowo Militer, Selama Presiden Dari Militer, NKRI Tetap Terjaga. (Megawati -> Sipadan & Ligitan Diambil Malaysia, Habibie -> Timtim Lepas)
9.Prabowo Anak Menteri Keuangan Soekarno & Cucu Pendiri Bank BNI, Asal Usul Jelas.
10.Prabowo Berhasil Menjadikan Kopassus Sebagai Pasukan Elite Dunia.
11.Prabowo Ketua HKTI, Peduli Petani & Rakyat Kecil.
12.Prabowo Satu-Satunya Capres Yg Berani Kontrak Politik Dengan Buruh.
13.Prabowo Ketua APPSI, Peduli Pedagang Pasar Tradisional.
14.Prabowo Ketua IPSI, Pencak Silat Indonesia Juara SEAGames, Prabowo Rela Rumahnya Dijadikan Tempat Latihan.
15.Prabowo Menguasai 4 Bahasa Asing (Inggris, Jerman, Prancis, Belanda)
16.Prabowo Sabar, Walaupun Difitnah Tak Pernah Membalas.
17.Prabowo Amanah.
18.Prabowo Didukung Tokoh Agama.
19.Prabowo Berhasil Menyelamatkan TKI dari Hukuman Mati Padahal Bkn Pejabat Pemerintahan.
20.Prabowo Ketua Dewan Pembina Gerindra, Ridwan Kamil (Walikota Bandung/ Kader Gerindra) Sebagai Walikota Terbaik Dunia.
21.Prabowo Blusukan Ke Puncak Dunia (Mount Everest) Utk Kibarkan Merah Putih.
22.Prabowo sbg prajurit Blusukan Hampir Ke Semua Wilayah Tanah Air.
23.Prabowo Blusukan Bebaskan Sandera dr OPM, dari Mission Imposible (kata Delta Force AS) menjadi Mission Completed dgn Baik.
24.Prabowo Blusukan Tak Pernah Minta Diliput Media.
25.Prabowo Tdk Pernah Ngemis Uang Rakyat Utk Kampanye, Justru Memberi Bantuan Pada Anak Yatim.
26.Prabowo Tdk Mencla Mencle.
27.Prabowo Berwibawa Dan Disegani Dunia Internasional.
28.Prabowo Satu-Satunya Capres Yg Berhasil Menemukan Kebocoran Kekayaan RI sebesar Rp.1.160 triliun per tahun.Teruskan ya ke sahabat yg lain demi IndONEsia yg bermartabat.Amiiinnn..

Track Record PDIP Presiden

Semoga Rakyat Tidak Gampang Lupa, saat:
1. Dulu kau jual satelit negara kami ke Singapura melalui 'Indosat' dengan murah.
Sehingga kita dimata-matai negara tetangga ! ‪#‎SudahLupa‬ ?!?
& saat ini Frekwesi Indonesia bermasalah'
2. Kau jual aset-aset kami yang dikelola BPPN (hanya 30% nilainya) ke Asing, Ibu dapat komisi berapa tuh! ‪#‎Sudah‬ Lupa ?!?
3. Dulu kau jual kapal tanker VLCC Pertamina lalu Pertamina kau paksa sewa kapal VLCC lgi,
kau UNTUNG dan Kami' Rakyat M'rugi! -- Sudah ‪#‎Lupa‬ ?!?
4. Dulu kau jual gas Tangguh dengan murah (banting harga) ke China
(hanya $3 per mmbtu), sekarang kau teriak-teriak selamatkan Migas !
‪#‎SudahkahLupa‬ ?!?
5. Dulu kau buat UU Outsourching yang merugikan kaum buruh wong cilik, jika anda termasuk pekerja outsourching anda adalah korban kebijakan Megawati, Sekarang kau koar-koar atas nama buruh wong cilik !
‪#‎MenolakLupa‬
6. Dulu kau berikan SP3 dan SKL, Release dan discharge untuk bandit-
bandit dan Rampok BLBI pencuri uang rakyat !
‪#‎SemogaRakyatTidak‬ Lupa
7. Sekarang, Kau ngomong lagi soal nasionalisme, Setelah kader-kader
kau banyak yang korup !
‪#‎Susah‬ Lupa
8. Dan sekarang, Untuk mengkatrol suaramu yang
terpuruk, Kini kau umpankan Si "Kotak-Kotak" !
‪#‎Pura2‬ Lupa ?!?
9. Dulu kau berhutang Triliunan rupiah hanya untuk menyelamatkan 'bandit perampok Negara, Skrg kau jg didukung bandit-bandit untuk naikkan ‪#‎Capresmu‬.
10. Dulu kau ngambek karena tidak menang lawan SBY, Sekarang kau jumawa
dan sombong meski belum menang,
#Lupa juga?
12. Ada yang ketinggalan tuh, Soekarno Merebut Papua Barat, Soeharto Merebut Timor-Timor, Kau malah ‪#‎MELEPAS‬ Pulau Sipadan dan Ligitan
13. Jika jokowi menang, menteri agama otomatis jalaludin rahmat yang notabene adlh dedengkot syi'ah (menyimpang dari islam)
Jokowi hanya alat utk memuluskan mega jd penguasa , rakyat harus cerdas...

POLITIK PANGAN Prabowo


Dengan 10 juta hektar sawah yg nanti dikelola dgn sgt baik, kita bisa menghasilkan 7 ton/ hektar atau 7 x 10 juta x 3 kali panen = 210 juta ton gabah pertahun..
jika rendemen sekitar 60%, maka jumlah itu akan menghasilkan 126 juta ton beras per tahun
menurut data statistik, kebutuhan beras nasional adl 140 kg/ org/tahun
atau jika jumlah penduduk indonesia 250 juta, maka dibutuhkan beras 35 juta ton/ tahun
jadi dari beras saja, nanti akan ada surplus 90 juta ton/ tahun
dengan beras yg cukup, tentu akan memperbaiki tingkat ketenangan masyarakat..
dgn perut yg kenyang, masyarakat akan dijauhkan dari sikap anarkis, dan mudah terpropvokasi..
dengan perut yg kenyang, masyarakat akan lebih kreatif
dengan perut yg kenyang, masyarakat akan lebih mudah diajak bicara, utk musyawarah, sehingga apa yg mjd tujuan nasional akan lebih mudah dicapai..
dengan perut yg kenyang, juga akan semakin memantabkan pemerintah dlm berdiplomasi antar bangsa, bangsa lain akan menghormati Indonesia dan memandang kita sbg negara besar..
- jika Singapura macam-macam, kita bisa urugi negaranya dgn beras
- jika israel bikin ulah, akan kita kirimi beras..
- jika amerika coba mengganggu, akan kita BOM negaranya dgn beras..
ingatlah saudara-saudaraku, kita dikaruniai tanah yg sgt subur, benih dilemparpun akan tumbuh dgn cepat..
surplus 90 juta ton/tahun bisa terus meningkat, dgn beras saja kita bisa membeli kapal selam tipe terbaru.. kita bisa beli saham indosat, kita bisa beli kapal tangker, kita bisa beli apa saja UNTUK RAKYAT..
bahkan kalau perlu, PULAU SIPADAN DAN PULAU LIGITAN kita beli kembali !!!

JOKOWI????? memikir sebelum memilih?????



Kalo modal Kartu bisa jadi presiden, harus nya I Gede Winasa (mantan Bupati Jembrana) sudah jadi presiden sejak dulu. Tapi trnyata nyalon Gubernur Bali pun beliau gagal.
Jokowi punya 2 kartu, KJP dan KJS.
I Gede Winasa cuma punya 1 kartu, J-Card, tp jauh lebih sakti dari kartu Jokowi.
Jembrana Smart Card berfungsi sebagai KTP, kartu pegawai/pelajar, kartu absensi, ATM, kartu belanja, kartu angkutan umum, kartu pilkades dan kartu berobat yg juga berisi rekam medis.
Itupun memerlukan 6 tahun untuk benar2 membuat Jembrana jadi digital city, bukan "tinggal panggil programmer 2 minggu beres"
Semoga kita tidak masuk golongan pemimpi yg tak pernah beranjak dari depan televisi yg sedang memutar sinetron "Manusia Setengah Dewa"

Tanpa maksud menyudutkan atau SOK, tp hny mencoba jd pemilih yg berfikir sithik....
1. Double track KA di Jawa?????
Bukane double track on process, trakhir liat, bahkan dah terpasang, mgkn tinggal tunggu peresmian aja...
Lha sumatra juga sebagian dah terpasang jalur ganda. Kasian SBY Boediono nek jerih payahnya ndak di akui...
2. Jokowi : Saya gubernur pertama menaikkan UMR 44%, tapi Awang Farouk (Golkar, Demokrat, PAN, PKS) juga gubernur pertama menaikkan UMR 49%. Kasian kalo Awang Farouk gk diakoni usahane...he..he..he..
3. Tol Laut???? Wacana nya SBY, tp ditunda dg lebih mendahulukan merintis Kawasan Ekonomi dan Kawasan Industri baru.
Tol Laut, butuh dana besar mbangun dep sea port, cari investor Kapal2 besar, sedangkan distribusi barang apa ndak njomplang, kapal mau bawa apa dari Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi bahkan Kalimantan utk ke Jawa. Klo hasil alam mereka yg dibawa ke Jawa, tidak sebanding dengan hasil produksi yg ada di Jawa utk dibawa ke sana. Mana yg lebih masuk akal Tol Laut dulu atau pemerataan pembangunan Kawasan Industri dan Kawasan Ekonomi baru di wilayah2 luar jawa?
Prabowo sangat menghargai Jokowi, memuji memeluk Jokowi, bahkan wawancara setelah debat mengatakan ingin membangun keakraban. Tapi Jokowi di wawancara stlh debat kok nyindir Prabowo masalah singkatan TPID. Membanggakan diri krn programnya di dukung Prabowo.
Monggo klo ada yg memahami visi misi Jokowi bisa dijelaskan, sopo ngerti bnyk yg bisa nerima dan mengalihkan dukungan..

LAGI-LAGI "KARTU SEHAT" MENJADI MATA DAGANGAN JOKOWI


Kartu Sehat yang dilaunching oleh Jokowi di Solo dan dipopulerkan di DKI rupa-rupanya dianggap sebagai salah satu kunci keberhasilan. Sampai-sampai ketika Jokowi kini nyapres, Kartu Sehat pun mau dijadikan alat pendongkrak suaranya.
Kartu Sehat itu selain oleh Jokowi, juga ditiru oleh Musthofa, Bupati Kudus, dengan sebutan KKS (Kartu Kudus Sehat). Mungkin daerah lain juga ada yang menjiplak penerapan Kartu Sehat ini.
Ketika adik saya kena serangan stroke beberapa waktu lalu, saya sempat mau gunakan KKS itu untuk meringankan biaya. 3 jam setelah kena serangan, adik saya langsung saya bawa ke UGD RSUD Kudus. Di situ telah berjubel orang sakit menunggu ditangani. Adik saya tidak bisa ditangani dengan segera, meskipun penyakit adik saya dalam kategori urgent. Lalu adik saya saya luncurkan ke RSI Sunan Kudus. Alhamdulillah adik saya bisa ditangani segera dan bisa tertolong.
Dalam urusan pembiayaan, saya sodorkan KKS. Ternyata KKS itu tidak berlaku di RSI Sunan Kudus. Kata petugas admin di situ, yang bisa berlaku yaitu Kartu Jamkesmas dan Kartu BPJS. Pada hal, petugas Pemdes sebagai kepanjangan tangan dari Pemkab, ketika mendistribusikan KKS sempat mengatakan bahwa KKS dan Jamkesmas itu mempunyai fungsi yang sama. Bedanya Jamkesmas dibiayai dari APBN dan KKS dibiayai dari APBD. Saya jadi teringat banyak RSU di Jakarta yang juga menolak KJS (Kartu Jakarta Sehat) yang diluncurkan Jokowi.
Mengingat KKS tidak berguna, lalu semua KKS yang saya dan keluarga punya saya kembalikan ke Pemdes, agar mereka tahu bahwa KKS itu tidak bermanfaat. Kalau toh bermanfaat, manfaat itu tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Untuk memproteksi masalah kesehatan keluarga saya, akhirnya saya ikutkan pada program BPJS secara mandiri, meskipun saya yakin saya dan keluarga akan jarang gunakan Kartu BPJS itu.
Dalam kesempatan ini perlu saya sampaikan bahwa Kartu Sehat (meskipun masyarakat perlu sehat), bukanlah tema yang tepat digunakan sebagai tema kampanye. Jika Jokowi tetap menggunakan itu, saya justru menilai bahwa Jokowi itu ternyata adalah sosok calon pemimpin yang telah mencapai titik jenuh dalam berfikir, pemikirannya menjadi stagnan, berfikirnya dari itu ke itu lagi, sehingga ia tidak lagi mampu mengembangkan ide, gagasan dan pemikiran kreatif dan inovatif. Ia akan perlakukan masyarakat Indonesia semua seperti masyarakat Solo. Pada hal masyarakat Indonesia dan problematika yang dihadapi masing-masing daerah itu sangatlah berbeda dan beragam. Memperlakukan Jakarta seperti ia memperlakukan Solo saja belum berhasil, bagaimana mau memperlakukan itu ke seluruh Indonesia?
Jokowi memang terkenal sebagai sosok yang sederhana, tapi pemikirannya tidak boleh terlalu sederhana. Pemikiran yang tidak sekedar sederhana itu belum pernah ia perlihatkan. Kalau pemikirannya terlalu sederhana seperti itu, bagaimana ia mau membawa Indonesia manjadi negari yang maju?
Saya tidak sedang mengkampanyekan Prabowo. Saya juga tidak bermaksud melakukan kampanye hitam terhadap Jokowi. Saya cuma mau menyampaikan sebuah kenyataan dari kegagalan penerapan konsep pemikiran Jokowi di lapangan dan mengingatkan agar kita bersiap-siap untuk kecewa, jika Jokowi terpilih, seperti kita juga pernah kecewa ketika kita terlanjur memilih SBY.

Ada Rekaman Minta Jokowi Tak Diseret Kasus Bus Trans Jakarta



Ketua Progres '98 Faizal Assegaf, mengklaim memiliki bukti rekaman petinggi PDIP yang meminta Jaksa Agung untuk tidak menyeret Jokowi dalam kasus TransJakarta berkarat di Pemprov DKI Jakarta.

Dia berjanji, akan membeberkan bukti rekaman yang bocor itu ke publik.

"Besok, Rabu 18 Juni, pukul 13.00 WIB, saya dan kawan-kawan Progres 98 akan mendatangi Gedung Kejakaan Agung untuk menyampaikan surat klarifikasi terkait bocoran transkrip rekaman pembicaraan antara Jaksa Agung dengan org nomor satu PDIP, yg isinya meminta pihak kejaksaan agar tdk menyeret Jokowi sebagai tersangka dalam kasus korupsi TransJakarta senilai 1,5 Triliun," tulis Faizal dalam broadcast message BlackBerry Massenger dan juga dipublis di akun facebook pribadinya, Rabu (17/6/2014).

Masih dalam keterangan itu, Faizal mengaku kalau rekaman itu dia peroleh dari pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tidak disinggung siapa elit PDIP itu, walau dikatakannya adalah orang nomor satu di partai. Dia juga tidak menjelaskan, siapa orang di KPK yang membocorkan ini.

Dalam kasus TransJakarta berkarat ini, pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta telah menetapkan mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono, sebagai tersangka.

Kebenaran kerusuhan mei 1998 !!!

Mantan Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen akhirnya angkat bicara terkait foto-foto kekerasan yang diperlihatkannya di tengah dialog terbuka dengan tim pemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla di hadapan mahasiswa Universitas Indonesia, Rabu 18 Juni 2014.

"Ini adalah foto-foto kekerasan yang terjadi pada waktu kerusuhan Mei 98," kata Kivlan sambil memperlihatkan foto-foto kekerasan.

Kivlan mengatakan, foto-foto yang diperlihatkannya di depan mahasiswa merupakan salah satu bukti untuk mengungkap siapa yang paling bertanggung jawab pada kerusuhan Mei 1998 silam.

"Tak usah saya sebut orangnya, kerusuhan ini sudah direncanakan dan mereka menggelar rapatnya di Senayan. Kalau saya buka ini adalah aib bangsa," beber Kivlan.

Lebih lanjut, Kivlan menegaskan, kasus kekerasan kerusuhan Mei 98 itu tidak ada kaitannya dengan Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat Panglima Kostrad. Prabowo, kata dia, tidak pernah meninggalkan Jakarta.

"Kalau dia pergi, maka habislah Jakarta. Saya bicara ini, karena saya ada bersama dia," ujarnya.

Menurutnya, kerusuhan dan kekerasan Mei 98 sengaja direncanakan dengan menggelar rapat dan dikontrol dari Bogor.
"Jadi jelas, Pak Prabowo hanya terkena fitnah. Kalian bisa lihatkan di foto ini, orang-orangnya ada dan ada spanduk merah, jelas di situ bertuliskan Komite Pendukung Megawati," ungkap Kivlan.

"Kalau mau blak-blakan ayo di pengadilan. Biar kita buka semua. Kasihan Pak Prabowo difitnah terus. Kalau tidak ada Prabowo, Jakarta bisa hancur berbulan-bulan seperti yang terjadi di Mesir dan negara lain," tambahnya. (asp)