Pemilu telah tiba tepatnya pada hari kamis tanggal 9 April 2009 hari dimana yang telah dinanti-nantikan segenap bangsa Indonesia ini, hari dimana sebagai parameter proses demokrasi negeri tercinta kita ini, Hari dimana lima tahun kedepan telah di tentukan untuk memilih calon-calon legislatif atau yang lebih akrab lagi dikenal sebagai wakil-wakil rakyat. Tetapi yang menjadi pertanyaan disini adalah sudah benarkah proses demokrasi dinegeri kita ini ? sudah sesuaikah dengan apa yang diinginkan dan diharapkan bangsa kita ini ? Tergantung siapa yang menjawabnya. Karena dihari ini tidak hanya merupakan proses demokrasi saja tetapi juga hari dimana penentuan harga diri, hari perang antara modal, kekayaan dan pengaruh, serta tidak banyak pula dikatakan sebagai hari penentuan “adu nasib”. Sehingga banyak caleg yang menjadi stress, gila bahkan hilang nyawa karena gagal menjadi anggota legislatif.Sebagai warga negara yang baik seharusnya kita peduli pada bangsa ini dengan ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum ikut menentukan bagaimana bangsa kita kedepan nanti. Sebelum pada hari pemilu kita telah melihat adanya kampanye-kampanye tertutup maupun kampanye terbuka yang telah ditentukan hari-harinya dari KPU dan pada pemilu 2009 ini diikuti oleh 44 partai, Dengan sejumlah caleg-caleg yang melakukan orasi maupun obral janji agar mendapatkan massa. Tapi disini saya melihat banyak permasalahan yang terjadi diantaranya :
I). Masih banyak partai-partai yang melakukan pelanggaran-pelanggaran pemilu baik melanggar ketertiban berlalu lintas, melibatkan anak-anak sebagai peserta kampanye, serta yang menjadi perhatian saya adalah adanya bagi-bagi duit baik dalam proses kampanye maupun hari-hari mendekati hari penyontrengan atau yang lebih dikenal dengan Money Politic. Ratusan juta uang para caleg di bagi-bagikan kepada masyarakat untuk mendapatkan sebuah kursi legislatif , Saya melihat dengan terorganisir para caleg dan partisipan-partisipan (sabet) dari caleg-caleg tersebut mencari cara bagaimana mendapatkan massa, mencari cara bagaimana para DPT tetap loyal kepadanya dengan timbal balik sejumlah uang yang diberikan, dan mencari kelemahan-kelemahan serta informasi dari caleg-caleg lain tentang berapa besar uang yang dibagikan, bagaimana cara dan kapan uang dibagikan dari pihak-pihak lawan. Para partisipan-partisipan tersebut dengan selalu tetap siaga dari partisipan pihak lawan agar massa yang telah rekrut tidak pindah haluan. Ini terjadi ketika malam hari sampai pagi hari penyontrengan dengan selalu waspada dan saling mengawasi, Bahkan adanya obral duit (bom-boman) agar memilih caleg yang dijagokannya. Begitu gigih dan loyal para partisipan-partisipan tersebut menjagokan caleg-calegnya dengan hanya mendapatkan puluhan ribu siap menanggung resiko baik berupa harga diri, harta bahkan sampai nyawa.
II). Pada pemilu 2009 ini sejumlah aturan pemilu telah ada penambahan dan perubahan, Disamping dipilih secara langsung juga dengan system suara terbanyak untuk bisa duduk dikursi legilatif, Perubahan dari system Nyoblos ke system penyontrengan dari nama-nama caleg yang terdaftar pada surat suara, Yang menjadi permasalahan disini saya melihat pada proses perhitungan suara hampir 30% sampai dengan 50% surat-surat suara tidak sah dari setiap jumlah DPT di TPS-TPS menurut saya ini tidak hanya rusak karena kertas suara itu sendiri baik disengaja maupun tidak disengaja robek karena salah membuka lipatan maupun melipatnya lagi, factor lain disebabkan tidak di contreng ini dikarenakan tidak bisa menyontreng atau salah nyontreng kebanyakan ini dialami para lansia dan orang-orang yang tidak bisa baca tulis. Kurangnya sosialisasi bagaimana tata cara pemilu dari KPU dan pihak-pihak yang berwenang kepada masyrakat terutama masyrakat pedesaan yang mana masih banyak yang tidak bisa baca tulis turut memperbanyak tidak sahnya surat suara dan salah sasaran.
Dari keterangan diatas saya menyimpulkan sungguh berantakan demokrasi kita, Terutama penggunaan Money Politic yang dirasa sebagai adat turun temurun, uang dianggap sebagai penentu nasib bangsa kita ini, inikah demokrasi ? Kapankah demokrasi kita bebas dari Money Politic seandainya setiap individu bangsa ini tidak membuka peluang penggunaan uang sebagai penentu kekuasaan pastilah tercipta demokrasi dalam arti sesungguhnya menuju masyrakat madani, adil dan sejahtera.
No comments:
Post a Comment